Di era informasi digital, tren kesehatan unik kerap muncul dan mengundang rasa penasaran publik. Salah satunya adalah konsumsi plasenta, atau yang dikenal dengan placentofagi. Praktik ini semakin populer, terutama di kalangan ibu baru, yang berharap mendapatkan manfaat kesehatan tertentu. Tetapi, apakah konsumsi plasenta benar-benar memiliki dasar ilmiah, atau hanya sekedar mengikuti hype media sosial?
Apa itu Placentofagi?
Placentofagi adalah praktik mengonsumsi plasenta setelah melahirkan, baik dalam bentuk utuh maupun kapsul yang telah diolah. Dalam prosesnya, plasenta dikukus, dikeringkan, dan digiling menjadi bubuk halus sebelum dikemas menjadi tablet. Para pendukung klaim bahwa plasenta kaya akan hormon, nutrisi, dan mineral yang dapat membantu pemulihan pasca-melahirkan. Namun, penting untuk memisahkan antara klaim dan fakta ilmiah.
Klaim Manfaat dan Realitas Ilmiah
Banyak perempuan mengaku merasakan manfaat seperti peningkatan energi, suasana hati yang lebih baik, dan penurunan gejala depresi pascanatal setelah mengonsumsi kapsul plasenta. Namun, perlu dicatat bahwa pengalaman pribadi tidak setara dengan bukti ilmiah yang kuat. Dalam literatur medis, temuan positif terkait konsumsi plasenta seringkali berdasarkan bukti anekdot. Penelitian menunjukkan konsentrasi hormon dan nutrisi dalam plasenta sangat rendah setelah melalui proses olahan, sehingga sulit untuk membenarkan klaim manfaat tersebut.
Pandangan Ilmiah Saat Ini
Dalam praktik kedokteran berbasis bukti, rekomendasi medis harus didukung oleh penelitian yang kuat. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa konsumsi plasenta efektif meningkatkan suplai ASI, suasana hati, atau mencegah depresi pascanatal. Beberapa studi bahkan tidak menemukan perbedaan berarti antar kelompok perempuan yang mengonsumsi kapsul plasenta dan yang menerima plasebo. Dengan demikian, bagi komunitas medis, klaim manfaat konsumsi plasenta tetap diragukan.
Risiko dan Keamanan Konsumsi Plasenta
Konsumsi plasenta juga bukan tanpa risiko. Karena proses pertukaran tidak diatur ketat, kualitas dan keamanan kapsul plasenta dapat bervariasi. Risiko potensial termasuk infeksi bakteri jika tidak diproses dengan benar, kontaminasi logam berat, dan dampak hormonal bagi wanita dengan kondisi medis tertentu. Pada kasus terburuk, ada laporan infeksi pada bayi yang terkait dengan konsumsi plasenta ibunya.
Mengambil Keputusan yang Bijaksana
Bagi perempuan yang merasa konsumsi plasenta memberikan manfaat emosional, penting untuk memastikan pengolahan dilakukan dengan aman. Namun, dengan bukti ilmiah yang terbatas dan potensi risiko yang ada, dokter banyak yang enggan merekomendasikan praktik ini sebagai solusi medis. Keputusan terbaik adalah berbincang dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan saran yang didasarkan pada data, bukan tren semata.
Kesimpulan dan Pandangan Pribadi
Tidak setiap tren kesehatan yang viral harus diikuti tanpa pertimbangan yang matang. Konsumsi plasenta mungkin menarik bagi sebagian orang, namun dalam dunia kedokteran, keselamatan dan efektivitas harus selalu menjadi prioritas utama. Informasi dan dialog yang terbuka dengan tenaga medis adalah kunci untuk membuat keputusan terbaik dalam perawatan pascakelahiran. Dalam setiap langkah kesehatan, terutama yang bersifat personal seperti ini, sebaiknya perempuan dibekali informasi yang akurat dan tidak mudah terpengaruh oleh sensasi laiknya tren media sosial.
